Jumat, 30 Januari 2015

Marry Me! Or Never! Is it your path to be a good Muslim?

Guten Tag!
Ada buku baru yang telah selesai aku baca sekitar seminggu yang lalu. Awalnya agak ragu saat ingin mengambil buku ini dari rak buku. Judul dari buku ini sungguh menarik para pembeli yang melihat sekilas dari deretan buku yang terpampang di rak. Pilihan warna covernya pun menarik sekali untuk dibeli oleh kaum hawa yang melihat. Ya, gambaran ini yang pertama kali saya dapatkan ketika sedang menjelajah buku baru yang hendak saya beli di toko buku. Karena dari awal saya tidak menargetkan buku yang akan saya beli di toko tersebut jadilah saya harus memilih buku ini sebagai buku yang hendak saya bawa pulang. 

                Buku ini berjudul “Marry Me! Or Never!”. Buku ini diterbitkan oleh mizania dan di tulis oleh 4 orang yang saling berkaitan satu sama lain yaitu, Jamil Azzaini (Ayah dari Ahmad Sholahuddin An-Nabhani), Farid Poniman (Ayah dari Nabila Jauda), Ahmad Sholahuddin An-Nabhani, dan Nabila Jauda. Buku ini dapat menginspirasi dan menguatkan hati para pasangan muda atau muslim dan muslima yang di hatinya masih tersimpan ragu untuk menikah di usia muda. Buku ini bukanlah buku percintaan biasa dengan segudang tips dan trik berpasangan agar langgeng, tetapi lebih mengarah kepada bagaimana melihat kehidupan dalam pernikahan di usia muda itu dapat mecerahkan jiwa – jiwa baik secara fisik dan psikologis pasangan.
                Hal yang menarik lainnya dari buku ini setelah saya kepo di internet adalah pada saat launching buku tersebut yang merupakan akad nikah dari salah satu pasangan penulis tadi. Bagaimana tidak menarik, buku ini bukan berisikan teori rumah tangga dari penulis yang pernikahannya telah berusia tua. Tetapi, buku ini adalah hasil yang dapat dilihat dari pernikahan pasangan (sangat) muda yang juga menggoreskan tintanya dalam pembuatan buku ini yaitu, Ahmad Sholahuddin An-Nabhani dan Nabila Jauda. Ditambah lagi pengemasan buku ini yang  islami namun bisa sezaman dengan kebutuhan remaja saat ini.


           Buku ini tidak hanya bisa dibaca oleh pasangan muda yang ragu untuk menikah di usianya yang (katanya) belum siap secara mental tetapi juga oleh orang tua yang mungkin memiliki kecemasan terhadap anaknya yang akan menikah muda. Kebanyakan orang tua akan ragu ketika anak mereka di usia muda meminta untuk menikah. Mungkin itu adalah hal yang wajar karena sebagai orang tua mereka sudah berpengalaman dalam mencecap rasa berumah tangga. Tetapi bukan berarti orang tua langsung melarang begitu saja terhadap anak mereka yang meminta menikah di usia muda. Ada juga persiapan dalam buku ini yang harus dilakukan oleh orang tua sebagai orang pertama yang bertanggung jawab terhadap kesiapan mental anak mereka. Karena menikah muda bukanlah tanggung jawab dari pasangan yang akan menikah saja, tetapi juga persiapan dari orang tua mempelai yang harus memberikan ‘wejangan’ yang harus dipersiapkan sampai sebelum anak mereka menikah.
                Sebagai hasil dari membaca ini pun saya (Haura) merasa ingin untuk menikah muda (hehehe... meski belum ada calon yang menghampiri orang tua saya). Tapi, hal lain yang bermanfaat bagi diri saya yang lain adalah mempersiapka diri saya terlebih dahulu dari ilmu agama yang pastinya saya dikemudian hari menginginkan anak yang soleh/ah, niat yang lurus, mematangkan emosi, dan pastinya menikah secara dewasa. Saya sadar bahwa di masa kuliah yang sedang saya jalani saat ini kehidupan berjalan dengan sangat cepat dan baru tersadar bahwa masa lulus kuliah tidak lama lagi dan seperti terlupa bahwa pernikahan bukanlah hubungan lanjutan dari pacaran, tetapi merupakan berkehidupan bersama pasangan yang harus terencana agar sampai kepada Jannah-Nya yang telah Ia janjikan kepada hambanya yang taat. 


Haura Dzakira Sahla :3